03 Maret 2013, Minggu Pra Paskah III
(Dibawakan di Paroki Raja Semesta Alam Nanga Bulik
saat pastor Paroki ikut Raker di Palangka Raya)
“Bertobatlah Kerajaan Allah Sudah Dekat”
(Kel 3:1-8a;13-15;1Kor 10:1-6;10-12;Luk 13:1-9)
Oleh : Martinus Sanit
(Kel 3:1-8a;13-15;1Kor 10:1-6;10-12;Luk 13:1-9)
Oleh : Martinus Sanit
Minggu yang lalu kita merenungkan “kebahagian
sejati anak-anak Allah”, artinya bahwa kebahagian itu tidak hanya yang
tampak, terasa saat ini saja, melainkan ada kebahagian yang lain, yakni “kebahagian
abadi”.Kebahagian abadi, atau kebahagian kekal adalah ‘surga’ bagi
orang beriman. Jadi, surga baru akan
kita nikmati setelah kita meninggal. Oleh karena
itu, pada masa puasa ini kita
dituntut untuk berdamai dengan Tuhan, agar dosa-dosa kita
diampuni dan kita diberi surga, kebahagian abadi.
“Pergunakanlah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, agar kita tidak
menyesal dikemudian hari”, Tuhan begitu murah hati, Tuhan
Berbaik hati, tawaran kita dipenuhi; setelah
tuntutan kita dipenuhi apa yang mesti kita lakukan? Coba, kita jawab! Seruan
mempergunakan saat berahmat ini tampak
jelas dari perumpamaan ‘pohon ara’ yang tumbuh di kebun anggur
seseorang. Digambarkan bahwa seorang pemilik kebun anggur mempunyai sebatang
pohon ara yang tumbuh ditengah-tengah kebun itu.
Harapan dari yang mempunyai kebun adalah buah pohon ara yang tumbuh dengan subur. Namun bagaimana sikap pemilik kebun itu ketika melihat bahwa pohon
itu tidak berbuah? Marahlah sang pemilik kebun ara ini berjanji akan berusaha sedemikian rupa agar tahun kemudian
akan berbuah.Tawaran lebih lama dan lebih baik masih ada.
Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan tadi adalah ”Tuhan“ sendiri. Sedangkan
pohon ara yang tumbuh ditengah-tengah kebun itu adalah manusia, sedangkan kebun
anggur sendiri adalah dunia tempat manusia hidup/berjuang, tempat Tuhan
menyemai bentuk-bentuk kehidupan.Tuhan telah menciptakan manusia.Tuhan telah
mamberi nafas, maka ada kehidupan.Agar hidup manusia itu ada arahnya jelas maka
Tuhan memberi akal budi dan perasaan. Terlebih pula agar manusia tidak sepi,
sendirian, Tuhan memberikan sesama dan segala makhluk lain entah yang
hidup/yang bergerak atau yang berwujd benda mati. Semua diciptakan agar manusia
bahagia. Namun Tuhan juga membuat bahwa kebahagian itu akan dirasakan kalau
manusia tetap menjalin relasi dengan Tuhan Sang Pencipta/pemberi hidup. Itulah
yang dinamakan “iman”, kepercayaan atau penyerahan diri secara total
kepada Allah.
Apa yang diharapkan Tuhan dengan relasi atau iman ini? Agar manusia tidak
lupa kepada Penciptanya. ”bagai kacang tidak akan lupa dengan kulitnya”,
kata sebuah perumpamaan. Namun bagaimana kenyataannya? Bagaimana pohon ara
tadi, manusia meninggalkan Tuhan, lupa dengan Penciptanya bahkan sudah mulai
mengandalkan kekuatannya sendiri, Tuhan dianggap buta, pengganggu kebebasan
maka ditinggalkan. Itulah yang disebut dosa manusia. Akibat dosa manusia mati
artinya kebahagian bagaimana dahulu diciptakan Tuhan menjadi hilang. Orang
harus berjuang, bekerja keras untuk mendapatkan kembali kebahagian itu.
Meski dikecewakan, Tuhan tidak menutup kemungkinan kembali relasi itu.
Bahkan Tuhan terus menerus menawarkan kebahagian relasi. Berarti sekalipun
berat, sering jatuh, Tuhan meminta agar jangan putus asa, melainkan juga tetap
berusaha. Mengingat perjuangan itu berat, Tuhan memberikan penyertaan melalui para utusan-Nya, misalnya
Musa, Yesus, dan akhirnya Roh Kudus, agar menyertai, mendampingi, dan mengingatkan
manusia agar jangan jatuh, atau bangun bila jatuh.
Musa, dalam bacaan pertama minggu ini diutus Tuhan, untuk menyertai bangsa
Israel dalam berjuang mencari kebahagian lepas dari perbudakan bangsa Mesir.
Dalam perjumpaan itu Musa menjadi perantara Tuhan bagi Israel supaya jangan frustasi, patah
semangat, tetapi terus berusaha bangun dari kejatuhan, dari penderitaan itu.
Tuhan tidak sampai hati melihat penderitaan manusia, Tuhan mendengar seruan
mereka. Tuhan bahkan menjadi jaminan Musa yang merasa takut/tidak mampu
menghadapi bangsa yang menderita bertubi-tubi ini, yang hampir tidak lagi
percaya adanya Tuahan ini. “Akulah Aku”, adalah bukti/tanda, bahwa
Tuhanlah yang berperan didalamnya, Tuhanlah yang berkarya dalam pribadi Musa.
Perjuangan itu tampak sekali dalam sejarah kehidupan manusia berikutnya.
Akhirnya Yesus sendiri harus tampil dalam perjuangan mencari kebahagiaan itu.
Allah harus turun menyelamatkan bangsanya, Tuhan harus menjadi seperti manusia
agar percaya bahwa Tuhan ada. Bahkan Tuhan harus mengutus Roh Kudus, untuk
tetap menyertai manusia ini.
Rekonsiliasi, perbaikan kembali adalah unsur utama manusia untuk
mendapatkan kembali kebahagiaan sejati itu, apalagi kebahagiaan kekal, yang
baru akan diterima nanti kehidupan nyata di dunia ini. Bahkan hidup di dunia
ini tidak lain adalah upaya untuk mencapai kebahagiaan itu.
Masa Prapaskah adalah masa “Rekonsiliasi” itu. Saat tawaran untuk
membersihkan, mencangkul tanah disekelilingnya dan memberi pupuk, supaya
berbuah, supaya tidak ditebang oleh pemilik kebun itu. Tuhan sungguh sangat
baik, permintaan kita untuk bersabar dipenuhi. Tetapi bagaimana setelah
permintaan itu dipenuhi? Maukah kita menggunakan “saat/kesempatan/waktu”
yang Tuhan berikan ini dengan sebaik-baiknya supaya mendapatkan kembali kebahagiaan
yang telah rusak akibat dosa ini? Maukah kita menggunakan “waktu” ini
untuk berusaha “merayu” Tuhan agar kebahagiaan kekal itu menjadi milik kita? ”Bertobatlah,
sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”, mumpung masih ada waktu, masih bisa
bertobat. Mengakhiri renungan singkat ini ada sebuah kisah dari negeri Yunani. Konon
diceritakan bahwa ada seorang pengukir terkenal mengukir pada sebuah tiang yang
sangat tinggi. Ia menghabiskan waktunya berbulan-bulan untuk menghasilkan
sebuah karya yang indah. Saking tingginya tiang tempat ia mengukir orang tidak
bisa menikmati ukiran indah itu bila dilihat dari bawah tiang. Lantas orang
mulai mempertanyakan karya dari orang tersebut. Untuk apa menghabiskan waktu
berbulan-bulan kalau orang tidak bisa menikmati keindahan itu? Lalu orang itu
menjawab dengan santai “Manusia tidak dapat menikmati tetapi Tuhan dapat
melihatnya”. Semoga apa yang kita buat
pada masa puasa ini bukan untuk dinilai atau dipuji oleh manusia tetapi biarlah
Tuhan yang akan memperhitungkan semuanya.
Amin.






0 komentar:
Posting Komentar