/>

PELITA HARAPAN HIDUP

Pengikut

http://maryans75.blogspot.com/

SANG GEMBALA

YESUS MENGAJAR PARA MURIDNYA.

UPACARA

MENINGKATKAN SIKAP NASIONALISME BANGSA.

LUKISAN ALAM

TUHAN SUNGGUH LUAR BIASA.

BERKATILAH AKU

AKU MENGUTUS ENGKAU UNTUK MEWARTAKAN KABAR SUKACITA.

MARILAH

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA.

Sabtu, 27 April 2013

PERPISAHAN

PELITA HARAPAN HIDUP


SAYONARA :
SEBUAH PERPISAHAN KASIH

Sayonara…sayonara sampai berjumpa pula..buat apa susah..buat apa susah..susah itu tak ada gunanya. Begitulah syair lagu yang dinyanyikan  pada setiap saat acara perpisahan.  Perpisahan adalah sesuatu yang menyedihkan. Tiada yang ingin merasakannya. Tapi seperti kata pepatah “setiap pertemuan pasti ada perpisahan”. Itulah takdir yang akan selalu diemban manusia, tak terkecuali engkau dan diriku. Bahwa perpisahan akan ada dan senantiasa ada sepanjang sejarah hidup manusia. Eksistensi manusia sebagai makluk sosial tidak terlepas dari realitas perpisahan. Ada begitu banyak bentuk perpisahan yang telah dan akan dilewati oleh manusia itu sendiri. Perpisahan karena cinta, perpisahan karena tugas, perpisahan karena kematian dan lain sebagainya.
Semua model perpisahan tersebut  seyogyanya tidak terlewatkan begitu saja tetapi selalu dimaknai oleh manusia itu sendiri. Makna dari setiap perpisahan berbeda-beda. Perbedaan itu tergantung moment perpisahan yang dihadapi oleh setiap manusia. Misalnya perpisahan kerena tugas, makna bagi mereka yang mengalami peristiwa ini adalah meningkatkan kasih persaudaraan. Bahwa di dalam kasih mereka yang selama ini bergulat dalam sebuah tugas yang sama akan saling mengingat satu sama lain dalam doa, sharing dan kontak person. Mengapa bukan kesedihan tetapi kasih? Karena di dalam kasih segala sesuatu dapat melebur menjadi satu. Suka dan duka yang kita alami akan menjadi satu dalam kasih persudaraan.
Perpisahan dengan Pastor Gabriel bukan merupakan moment yang patut kita tangisi bersama tetapi patut kita syukuri. Karena dengan bersyukur akan mengalir kasih persaudaraan di antara kita. Kasih mengalahkan segalanya. Kasih membangkitkan semangat baru dalam hidup terutama dalam mengemban tugas di mana kita ditempatkan. Di dalam kasih kita akan bertemu dengan semua orang untuk mengembangkan kasih itu sendiri.
Kasih persuadaraanlah yang telah menyatukan kita dalam sebuah persekutuan gereja kristus. Kasih berhembus dalam tugas dan fungsi kita masing-masing untuk meningkatkan tali persaudaraan. Karena itu perpisahan ini saya refleksikan sebagai perpisahan kasih  karena dengan berpisah kita akan lebih memaknai kasih itu sendiri dalam kehidupan kita masing-masing.    
Kalau Tidak Karena Unggas
Tidaklah Rusak Padi Disawah,
Kalaulah Tidak Karena Tugas
Tidaklah Kita Akan Berpisah.
Kalau ada sumur di ladang
Boleh saya menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Boleh kita berjumpa lagi

SAYONARA PASTOR GABRIEL,OFM.cap,

RENUNGAN

PELITA HARAPAN HIDUP


03 Maret 2013, Minggu Pra Paskah III
(Dibawakan di Paroki Raja Semesta Alam Nanga Bulik 
saat pastor Paroki ikut Raker di Palangka Raya)
Bertobatlah Kerajaan Allah Sudah Dekat”
(Kel 3:1-8a;13-15;1Kor 10:1-6;10-12;Luk 13:1-9)
Oleh :
Martinus Sanit
         Minggu yang lalu kita  merenungkan “kebahagian sejati anak-anak Allah”, artinya bahwa kebahagian itu tidak hanya yang tampak, terasa saat ini saja, melainkan ada kebahagian yang lain, yakni “kebahagian abadi”.Kebahagian abadi, atau kebahagian kekal adalah ‘surga’ bagi orang beriman. Jadi, surga  baru akan kita nikmati setelah kita meninggal.  Oleh karena itu, pada masa puasa ini kita dituntut untuk  berdamai dengan Tuhan, agar dosa-dosa kita diampuni dan kita diberi surga, kebahagian abadi.
“Pergunakanlah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, agar kita tidak menyesal dikemudian hari”,  Tuhan begitu murah hati, Tuhan Berbaik hati, tawaran kita dipenuhi; setelah tuntutan kita dipenuhi apa yang mesti kita lakukan? Coba, kita jawab! Seruan mempergunakan  saat berahmat ini tampak jelas dari perumpamaan ‘pohon ara’ yang tumbuh di kebun anggur seseorang. Digambarkan bahwa seorang pemilik kebun anggur mempunyai sebatang pohon ara yang tumbuh ditengah-tengah kebun itu. Harapan dari yang mempunyai kebun adalah buah pohon ara yang tumbuh dengan subur. Namun bagaimana sikap pemilik kebun itu ketika melihat bahwa pohon itu  tidak berbuah? Marahlah sang pemilik kebun ara ini berjanji akan  berusaha sedemikian rupa agar tahun kemudian akan berbuah.Tawaran lebih lama dan lebih baik masih ada.
Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan tadi adalah ”Tuhan“ sendiri. Sedangkan pohon ara yang tumbuh ditengah-tengah kebun itu adalah manusia, sedangkan kebun anggur sendiri adalah dunia tempat manusia hidup/berjuang, tempat Tuhan menyemai bentuk-bentuk kehidupan.Tuhan telah menciptakan manusia.Tuhan telah mamberi nafas, maka ada kehidupan.Agar hidup manusia itu ada arahnya jelas maka Tuhan memberi akal budi dan perasaan. Terlebih pula agar manusia tidak sepi, sendirian, Tuhan memberikan sesama dan segala makhluk lain entah yang hidup/yang bergerak atau yang berwujd benda mati. Semua diciptakan agar manusia bahagia. Namun Tuhan juga membuat bahwa kebahagian itu akan dirasakan kalau manusia tetap menjalin relasi dengan Tuhan Sang Pencipta/pemberi hidup. Itulah yang dinamakan “iman”, kepercayaan atau penyerahan diri secara total kepada Allah.
Apa yang diharapkan Tuhan dengan relasi atau iman ini? Agar manusia tidak lupa kepada Penciptanya. ”bagai kacang tidak akan lupa dengan kulitnya”, kata sebuah perumpamaan. Namun bagaimana kenyataannya? Bagaimana pohon ara tadi, manusia meninggalkan Tuhan, lupa dengan Penciptanya bahkan sudah mulai mengandalkan kekuatannya sendiri, Tuhan dianggap buta, pengganggu kebebasan maka ditinggalkan. Itulah yang disebut dosa manusia. Akibat dosa manusia mati artinya kebahagian bagaimana dahulu diciptakan Tuhan menjadi hilang. Orang harus berjuang, bekerja keras untuk mendapatkan kembali kebahagian itu.
Meski dikecewakan, Tuhan tidak menutup kemungkinan kembali relasi itu. Bahkan Tuhan terus menerus menawarkan kebahagian relasi. Berarti sekalipun berat, sering jatuh, Tuhan meminta agar jangan putus asa, melainkan juga tetap berusaha. Mengingat perjuangan itu berat, Tuhan memberikan  penyertaan melalui para utusan-Nya, misalnya Musa, Yesus, dan akhirnya Roh Kudus, agar menyertai, mendampingi, dan mengingatkan manusia agar jangan jatuh, atau bangun bila jatuh.
Musa, dalam bacaan pertama minggu ini diutus Tuhan, untuk menyertai bangsa Israel dalam berjuang mencari kebahagian lepas dari perbudakan bangsa Mesir. Dalam perjumpaan itu Musa menjadi perantara Tuhan  bagi Israel supaya jangan frustasi, patah semangat, tetapi terus berusaha bangun dari kejatuhan, dari penderitaan itu. Tuhan tidak sampai hati melihat penderitaan manusia, Tuhan mendengar seruan mereka. Tuhan bahkan menjadi jaminan Musa yang merasa takut/tidak mampu menghadapi bangsa yang menderita bertubi-tubi ini, yang hampir tidak lagi percaya adanya Tuahan ini. “Akulah Aku”, adalah bukti/tanda, bahwa Tuhanlah yang berperan didalamnya, Tuhanlah yang berkarya dalam pribadi Musa.
Perjuangan itu tampak sekali dalam sejarah kehidupan manusia berikutnya. Akhirnya Yesus sendiri harus tampil dalam perjuangan mencari kebahagiaan itu. Allah harus turun menyelamatkan bangsanya, Tuhan harus menjadi seperti manusia agar percaya bahwa Tuhan ada. Bahkan Tuhan harus mengutus Roh Kudus, untuk tetap menyertai manusia ini.
Rekonsiliasi, perbaikan kembali adalah unsur utama manusia untuk mendapatkan kembali kebahagiaan sejati itu, apalagi kebahagiaan kekal, yang baru akan diterima nanti kehidupan nyata di dunia ini. Bahkan hidup di dunia ini tidak lain adalah upaya untuk mencapai kebahagiaan itu.
Masa Prapaskah adalah masa “Rekonsiliasi” itu. Saat tawaran untuk membersihkan, mencangkul tanah disekelilingnya dan memberi pupuk, supaya berbuah, supaya tidak ditebang oleh pemilik kebun itu. Tuhan sungguh sangat baik, permintaan kita untuk bersabar dipenuhi. Tetapi bagaimana setelah permintaan itu dipenuhi? Maukah kita menggunakan “saat/kesempatan/waktu” yang Tuhan berikan ini dengan sebaik-baiknya supaya mendapatkan kembali kebahagiaan yang telah rusak akibat dosa ini? Maukah kita menggunakan “waktu” ini untuk berusaha “merayu” Tuhan agar kebahagiaan kekal itu  menjadi milik kita? ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”, mumpung masih ada waktu, masih bisa bertobat. Mengakhiri renungan singkat ini ada sebuah kisah dari negeri Yunani. Konon diceritakan bahwa ada seorang pengukir terkenal mengukir pada sebuah tiang yang sangat tinggi. Ia menghabiskan waktunya berbulan-bulan untuk menghasilkan sebuah karya yang indah. Saking tingginya tiang tempat ia mengukir orang tidak bisa menikmati ukiran indah itu bila dilihat dari bawah tiang. Lantas orang mulai mempertanyakan karya dari orang tersebut. Untuk apa menghabiskan waktu berbulan-bulan kalau orang tidak bisa menikmati keindahan itu? Lalu orang itu menjawab dengan santai “Manusia tidak dapat menikmati tetapi Tuhan dapat melihatnya”.  Semoga apa yang kita buat pada masa puasa ini bukan untuk dinilai atau dipuji oleh manusia tetapi biarlah Tuhan yang akan memperhitungkan semuanya.  Amin.