BERKORBAN DAN
PENYANGKALAN DIRI
(Lukas 21:1-4)
Mempersembahkan sesuatu
yang berharga kepada Allah dengan hati yang penuh tanda tanya, maka persembahan
yang kita berikan tidak memiliki nilai dan makna. Namun jika kita
mempersembahkan barang berharga itu dengan keikhlasan maka segala sesuatu akan
menjadi indah pada waktunya. Allah akan membalasnya sesuai keikhlasan hati kita
dan kita pun akan merasa damai, tentram dan bahagia.
Dalam perjalanan hidup
manusia selalu berhadapan dengan bebrbagai persoalan hidup yang sangat vital. Persoalan
yang ada dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan manusia yang bisa menimbulkan
banyak perdebatan. Dan manusia dengan kekurangan yang dimilikinya sebenarnya tidak
mampu menghadapi semua persoalan tersebut.
Namun Gereja
Katolik dapat menawarkan kepada kita
banyak perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ untuk menghadapi persoalan hidup itu. Perbekalan,
perlengkapan, dan ‘senjata’ yang dimaksud melingkupi semua hal objek-objek
fisik yang berpangkal dari semua sakramen dan sakramentali, yaitu: Misa
Ekaristi, Air Suci, Anggur, Roti/Hosti, Minyak Urapan, Liturgi, Doa Orang
Kudus, Maria, Biara, Ruang pengakuan Dosa, Altar, Patung, dan juga Prosesi
Pengusiran Roh Jahat. Dan selain itu Gereja Katolik juga mengajarkan banyak
‘senjata’ rohani, ‘senjata’ spiritual dan ‘senjata’ yang terkuat dari semua
adalah Pengorbanan. (umat Katolik
melihat Misa Ekaristi secara esensi merupakan sebuah pengorbanan, me-respresentasikan – mengenangkan
kembali pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus sendiri di Kalvari.)
Sebuah Pengorbanan, baik yang dilakukan oleh
Kristus untuk kita atau yang dilakukan oleh kita untuk Kristus – keduanya
adalah suatu transaksi yang nyata. Pengorbanan tersebut bukan hanya merupakan
praktek penyangkalan diri sendiri oleh setiap individu umat Kristen.
Namun lebih dari itu, Pengorbanan bermakna penyerahan, persembahan, dan pemberian. Kita bisa belajar dari Janda Miskin yang mempersembahkan
seluruh kepunyaannya dan bahkan seluruh nafkah hidupnya kepada Tuhan. Ia tidak
memikirkan tentang apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah meninggalkan
rumah Tuhan, namun yang pasti bahwa kegembiraan dan kebahagiaan hati telah
diperoleh dan direbutnya dari Tuhan sebagai hadiah yang terindah dan
teristimewa dalam hidupnya.
Bahwa hal
utama dari pengorbanan, penyerahan, persembahan, dan pemberian bukanlah dalam
bentuk materi/fisik, melainkan hati dari pribadi yang melakukan pengorbanan,
penyerahan, persembahan, atau pemberian itu.
Dengan demikian pengorbanan dan persembahan adalah suatu cara mematuhi perintah Yesus Kristus yang
paling pertama dan yang paling besar, yaitu: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan
segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.”
Bapak/ibu/ saudara/i
yang terkasih dalam Kristus. Memasuki masa puasa ini kita akan berhadapan
dengan tiga penderitaan manusia yang merupakan sumber godaan terbesar dalam
berpuasa: yaitu:
Dunia, Daging, dan Iblis.
“Dunia” yang dimaksud di sini adalah
terpuruknya hubungan sosial antara manusia di dunia. Keterpurukan ini
adalah sumber kejahatan sosial dan emosional yang berasal dari
masyarakat, hubungan sosial, dan institusi-institusi; kejahatan tersebut yang
awalnya hanya kesalahpahaman terhadap sesama, berkembang menjadi kebencian
terhadap sesama, berkembang lagi menjadi penganiayaan terhadap sesama,
pembunuhan terhadap sesama atas nama keyakinan.
“Daging” yang dimaksud di sini adalah adanya tawaran hawa nafsu manusiawi kita untuk dapat
menguasai lingkungan, sesama. Pada dasarnya Roh memang kuat tapi daging lemah.
Kata Santo paulus. Karena itu kita harus belajar untuk menguasai keadaan
kedagingan kita dengan berdoa, berpuasa dan bersedekah.
“Iblis” adalah penyebab kejahatan spiritual,
terutama mempengarahui manusia ketika menghadapi godaan sehingga menyebabkan
manusia itu berbuat dosa. Hal ini juga merupakan penderitaan bagi kita, karena
untuk menolak dan menyatakan ‘tidak’ terhadap godaan, kita harus (seperti ada kesan ‘terpaksa’)
menyerahkan hal-hal yang tampaknya membahagiakan – yang ditawarkan oleh
godaan itu. Karena semua dosa ‘kelihatannya’ adalah jalan untuk mencapai
kebahagiaan ketika kita mulai tergoda; oleh karena itulah kita sering jatuh dan
berbuat dosa.
Agar manusia dapat
mengalahkan tiga hal di atas, maka Gereja Katolik mengajarkan dua hal ini:
Pertama: “Persembahan” atau “Pengorbanan”. Rumusan itu mengajarkan
agar umat Katolik menggunakan pengorbanan sebagai senjata untuk mengalahkan
kejahatan dengan kebaikan.
Kedua: “Penyangkalan
Diri” artinya ‘menolak’, atau me-‘matikan’ keinginan/hasrat
dari hati manusia yang buruk.
Semoga dengan
pengorbanan dan penyangkalan diri kita semakin memantapkan diri kita dalam
menjalani ibadah puasa selama sebulan ini.







0 komentar:
Posting Komentar