/>

PELITA HARAPAN HIDUP

Pengikut

http://maryans75.blogspot.com/

SANG GEMBALA

YESUS MENGAJAR PARA MURIDNYA.

UPACARA

MENINGKATKAN SIKAP NASIONALISME BANGSA.

LUKISAN ALAM

TUHAN SUNGGUH LUAR BIASA.

BERKATILAH AKU

AKU MENGUTUS ENGKAU UNTUK MEWARTAKAN KABAR SUKACITA.

MARILAH

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA.

Rabu, 11 Maret 2015

BERKORBAN DAN PENYANGKALAN DIRI

PELITA HARAPAN HIDUP

BERKORBAN DAN PENYANGKALAN DIRI
            (Lukas 21:1-4)

Mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Allah dengan hati yang penuh tanda tanya, maka persembahan yang kita berikan tidak memiliki nilai dan makna. Namun jika kita mempersembahkan barang berharga itu dengan keikhlasan maka segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Allah akan membalasnya sesuai keikhlasan hati kita dan kita pun akan merasa damai, tentram dan bahagia.

Dalam perjalanan hidup manusia selalu berhadapan dengan bebrbagai persoalan hidup yang sangat vital. Persoalan yang ada dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan manusia yang bisa menimbulkan banyak perdebatan. Dan manusia dengan kekurangan yang dimilikinya sebenarnya tidak mampu menghadapi semua persoalan tersebut. 

Namun Gereja Katolik dapat menawarkan kepada kita banyak perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ untuk menghadapi persoalan hidup itu. Perbekalan, perlengkapan, dan ‘senjata’ yang dimaksud melingkupi semua hal objek-objek fisik yang berpangkal dari semua sakramen dan sakramentali, yaitu: Misa Ekaristi, Air Suci, Anggur, Roti/Hosti, Minyak Urapan, Liturgi, Doa Orang Kudus, Maria, Biara, Ruang pengakuan Dosa, Altar, Patung, dan juga Prosesi Pengusiran Roh Jahat. Dan selain itu Gereja Katolik juga mengajarkan banyak ‘senjata’ rohani, ‘senjata’ spiritual dan ‘senjata’ yang terkuat dari semua adalah Pengorbanan. (umat Katolik melihat Misa Ekaristi secara esensi merupakan sebuah pengorbanan, me-respresentasikan – mengenangkan kembali pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus sendiri di Kalvari.)

Sebuah Pengorbanan, baik yang dilakukan oleh Kristus untuk kita atau yang dilakukan oleh kita untuk Kristus – keduanya adalah suatu transaksi yang nyata.   Pengorbanan tersebut bukan hanya merupakan praktek penyangkalan diri sendiri oleh setiap individu umat Kristen. Namun lebih dari itu, Pengorbanan bermakna penyerahan, persembahan, dan pemberian. Kita bisa belajar dari Janda Miskin yang mempersembahkan seluruh kepunyaannya dan bahkan seluruh nafkah hidupnya kepada Tuhan. Ia tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah meninggalkan rumah Tuhan, namun yang pasti bahwa kegembiraan dan kebahagiaan hati telah diperoleh dan direbutnya dari Tuhan sebagai hadiah yang terindah dan teristimewa dalam hidupnya.

Bahwa hal utama dari pengorbanan, penyerahan, persembahan, dan pemberian bukanlah dalam bentuk materi/fisik, melainkan hati dari pribadi yang melakukan pengorbanan, penyerahan, persembahan, atau pemberian itu. Dengan demikian pengorbanan dan persembahan adalah suatu cara mematuhi perintah Yesus Kristus yang paling pertama dan yang paling besar, yaitu: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.”

Bapak/ibu/ saudara/i yang terkasih dalam Kristus. Memasuki masa puasa ini kita akan berhadapan dengan tiga penderitaan manusia yang merupakan sumber godaan terbesar dalam berpuasa:  yaitu: Dunia, Daging, dan Iblis.

“Dunia” yang dimaksud di sini adalah terpuruknya hubungan sosial antara manusia di dunia. Keterpurukan ini adalah sumber kejahatan sosial dan emosional yang berasal dari masyarakat, hubungan sosial, dan institusi-institusi; kejahatan tersebut yang awalnya hanya kesalahpahaman terhadap sesama, berkembang menjadi kebencian terhadap sesama, berkembang lagi menjadi penganiayaan terhadap sesama, pembunuhan terhadap sesama atas nama keyakinan.

“Daging” yang dimaksud di sini adalah adanya tawaran hawa nafsu manusiawi kita untuk dapat menguasai lingkungan, sesama. Pada dasarnya Roh memang kuat tapi daging lemah. Kata Santo paulus. Karena itu kita harus belajar untuk menguasai keadaan kedagingan kita dengan berdoa, berpuasa dan bersedekah. 

“Iblis” adalah penyebab kejahatan spiritual, terutama mempengarahui manusia ketika menghadapi godaan sehingga menyebabkan manusia itu berbuat dosa. Hal ini juga merupakan penderitaan bagi kita, karena untuk menolak dan menyatakan ‘tidak’ terhadap godaan, kita harus (seperti ada kesan ‘terpaksa’) menyerahkan hal-hal yang tampaknya membahagiakan – yang ditawarkan oleh godaan itu. Karena semua dosa ‘kelihatannya’ adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan ketika kita mulai tergoda; oleh karena itulah kita sering jatuh dan berbuat dosa.  

Agar manusia dapat mengalahkan tiga hal di atas, maka Gereja Katolik mengajarkan dua hal ini:
Pertama: “Persembahan” atau “Pengorbanan”. Rumusan itu mengajarkan agar umat Katolik menggunakan pengorbanan sebagai senjata untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.  
Kedua: “Penyangkalan Diri”   artinya ‘menolak’, atau me-‘matikan’ keinginan/hasrat dari hati manusia yang buruk.

Semoga dengan pengorbanan dan penyangkalan diri kita semakin memantapkan diri kita dalam menjalani ibadah puasa selama sebulan ini.